Friday, June 21, 2013

Jenis-jenis Pidato

Jenis-jenis Pidato 
Berdasarkan ada tidaknya persiapan dalam pidato, Rachmat (1999: 17-18) membagi jenis pidato menjadi empat macam, yaitu pidato impromtu, manuskrip, memoriter, dan ekstempore. Tokoh lain menyebut empat bentuk ini bukan sebagai jenis pidato, tetapi merupakan metode pidato. 


1. Pidato Impromtu 

Pidato impromptu adalah pidato yang disampaikan tanpa adanya persiapan dari orang yang akan berpidato. Misalnya, ketika Anda datang ke suatu pesta, kemudian Anda diminta untuk menyampaikan pidato, maka pidato yang Anda sampaikan tanpa adanya persiapan terlebih dahulu tersebut dinamakan pidato impromtu. Bagi mereka yang sudah terbiasa berpidato, pidato impromtu ini memiliki beberapa keuntungan, diantaranya adalah (1) impromtu lebih dapat mengungkapkan perasaan pembicara yang sebenarnya, karena pembicara tidak memikirkan lebih dulu pendapat yang disampaikannya, (2) gagasan dan pendapatnya datang secara spontan, sehingga tampak segar dan hidup, dan (3) impromtu memungkinkan Anda terus berpikir. 

Namun demikian, impromtu ini memiliki beberapa kelemahan, terutama bagi pembicara atau orang yang belum terbiasa berpidato. Kelemahan-kelemahan impromtu tersebut antara lain adalah (1) impromtu dapat menimbulkan kesimpulan yang mentah karena dasar pengetahuan yang tidak memadai, (2) impromtu mengakibatkan penyampaian yang tersendat-sendat dan tidak lancar, (3) gagasan yang disampaikan bias “acak-acakan” dan ngawur, (4) karena tiadanya persiapan, kemungkinan “demam panggung” besar sekali. 

Menurut Jalaludin Rachmat (1999: 17) ada beberapa hal yang harus diperhatikan dan dijadikan pegangan ketika pidato impromtu harus dilakukan. Hal-hal tersebut antara lain adalah: 
  1. Pikirkan lebih dahulu teknik permulaan pidato yang baik. Misalnya: Cerita, hubungan dengan pidato sebelumnya, bandingan, ilustrasi, dan sebagainya. 
  2. Tentukan sistem organisasi pesan. Misalnya: susunan kronologis, teknik pemecahan masalah, kerangka sosial ekonomi-politik, hubungan teori dan praktik. 
  3. Pikirkan teknik menutup pidato yang mengesankan. Kesukaran menutup pidato biasanya merepotkan pembicara impromtu. 
2. Pidato Manuskrip 
Pidato jenis manuskrip ini juga sering disebut pidato dengan naskah. Orang yang berpidato mmembacakan naskah pidato dari awal sampai akhir. Pidato jenis manuskrip ini diperlukan oleh tokoh nasional dan para ilmuwan dalam melaporkan hasil penelitian yang dilakukannya. Mereka harus berbicara atau berpidato dengan hati-hati, karena kesalahan pemakaian kata atau kalimat akibatnya bisa lebih luas dan berakibat negatif. 

Keuntungan pidato manuskrip antara lain adalah (1) kata-kata dapat dipilih sebaik-baiknya sehingga dapat menyampaikan arti yang tepat dan pernyataan yang gamblang, (2) pernyataan dapat dihemat, karena manuskrip dapat disusun kembali, (3) Kefasihan bicara dapat dicapai, karena kata-kata sudah disiapkan, (4) hal-hal yang ngawur atau menyimpang dapat dihindari, (5) manuskrip dapat diterbitkan atau diperbanyak. 

Akan tetapi kalau dilihat dari proses komunikasi, kerugian pidato manuskrip ini akan lebih berat , di antaranya adalah (1) komunikasi pendengar akan berkurang karena pembicara tidak berbicara langsung kepada mereka, (2) pembicara tidak dapat melihat pendengar dengan baik, sehingga akan kehilangan gerak dan bersifat kaku, (3) Umpan balik dari pendengar tidak dapat mengubah, memperpendek atau memperpanjang pesan, (4 ) pembuatannya lebih lama daripada sekedar menyiapkan garis-garis besarnya saja. 

Agar dapat menghindari berbagai kelemahan dari pidato manuskrip ini, maka perlu diperhatikan beberapa hal berikut ini: 
  1. Susunlah lebih dahulu garis-garis besarnya dan siapkan bahan-bahannya. 
  2. Tulislah manuskrip seolah-olah Anda berbicara. Gunakan gaya percakapan yang lebih informal dan langsung. 
  3. Baca naskah itu berkali-kali sambil membayangkan pendengar. 
  4. Siapkan manuskrip dengan ketikan besar, tiga spasi dan batas pinggir yang luas. 
3. Pidato Memoriter 
Pidato jenis ini juga sering disebut sebagai pidato hafalan. Pembicara atau orang yang akan berpidato menulis semua pesan yang akan disampaikan dalam sebuah naskah kemudian dihafalkan dan disampaikan kepada audiens kata-demi kata secara hafalan. Pidato memoriter ini sering menjadi tidak dapat berjalan dengan baik apabila pembicara lupa bagian yang akan disampaikan, dan dalam pidato ini hubungan antara pembicara dengan audiens juga kurang baik. 

Kekurangan pidato jenis ini antara lain adalah: tidak terjalin saling hubungan antara pesan dengan pendengar, kurang langsung, memerlukan banyak waktu dalam persiapan, kurang spontan, perhatian beralih dari kata-kata kepada usaha mengingat-ingat. 

4. Pidato Ekstemporer 
Pidato ekstemporer ini adalah jenis pidato yang paling baik dan paling banyak digunakan oleh juru pidato yang telah mahir. Dalam pidato jenis ini, pembicara hanya menyiapkan garis besar (out-line) saja. Dalam penyampaiannya, pembicara tidak mengingat kata demi kata tetapi pembicara bebas menyampaikan ide-idenya dengan rambu-rambu garis besar permasalahan yang telah disusun. Komunikasi yang terjadi antara pembicara dengan audiensnya dapat berlangsung dengan lebih baik. Pembicara dapat secara langsung merespons apa yang terjadi di hadapannya sesuai dengan situasi dan kondisi yang dihadapinya. 

Bagi pembicara yang belum mahir berpidato, pidato jenis ekstempore ini memiliki beberapa kelemahan. Kelemahan tersebut di antaranya adalah: persiapan kurang baik bila dibuat terburu-buru, pemilihan bahasa yang jelek, kefasihan yang terhambat karena kekurangan memilih kata dengan segera, kemungkinan menyimpang dari garis besar pidato (out-line), tentu saja tidak dapat dijadikan bahan penerbitan. Akan tetapi, kekurangan-kekurangan tersebut dapat diatasi dengan banyak melakukan latihan berpidato. 

Berdasarkan isi dan sifatnya, Haryadi (1994:45) mengelompokkan pidato ke dalam tiga jenis, yaitu (1) pidato informatif, (2) pidato propagandis, dan (3) pidato edukatif. 

Pidato informatif mempunyai ciri-ciri: 

1. objektif, yaitu menurut apa adanya dan sesungguhnya, dasarnya memberi penerangan sejelas-jelasnya dan tidak menyimpang dari pokok persoalan, 

2. realistis, yaitu mengikuti apa yang sebenarnya, baik pahit maupun manis, 

3. motivatif, artinya memberi pengarahan agar diperoleh kesadaran baru, dan 

4. zakelijk, yakni tidak menyimpang dari persoalan dan jujur. 

Pidato propagandis mempunyai ciri-ciri: 
  1. subjektif, artinya dapat menyimpang dari hakikat kebenaran demi tercapainya tujuan, 
  2. Fiktif, yakni lebih banyak gambaran-gambaran yang indah-indah, fatamorgana, isapan jempol, 
  3. pemutarbalikan fakta bila perlu, artinya segala cara dapat dilakukan termasuk memutarbalikkan fakta demi mempero­leh pengaruh yang besar, 
  4. agitatif, artinya dilakukan secara bersemangat dan berapi-api, 
  5. demagogis, yaitu berisi pengarahan-pengarahan yang menyesatkan orang lain, bahkan sering melakukan fitnah dan adu domba, 
  6. agresif, artinya bersikap menyerang lawan, 
  7. menarik, yakni memikat dan sering mendapat tepuk tangan. 
Pidato edukatif memiliki ciri-ciri: 
1. objektif, apa yang dituju atau dimaksud, 
2. rasional, yakni berdasarkan pikiran sehat, bukan emosi, dan mementingkan kebenaran, 
3. berdasarkan ilmu pengetahuan yang dapat dipertanggungja­wabkan kebenaran ilmiahnya, 
4. defensif, artinya bersifat mempertahankan kebenaran ilmiahnya, 
5. tenang waktu mengemukakan, dimaksudkan untuk mema­suk­kan pengertian. 

Di bagian lain dikemukakan sikap dan tatakrama yang perlu diperhatikan oleh seorang pembicara, antara lain: 
1. Berpakaian yang bersih, rapi, sopan, dan tidak bergaya pamer atau berlebih-lebihan. 
2. Merendahkan hati, tetapi bukan rendah diri dan kurang percaya diri. 
3. Kata-kata dan ucapan sopan. Menggunakan kata-kata sapaan secara mantap dan bersahabat. 
4. Di sana-sini diselingi humor yang segar dan sopan. 
5. Pada bagian akhir uraian selalu mengemukakan permo­honan maaf. 

Berikut ini dikemukakan struktur bahan yang digunakan untuk berbagai pidato seremonial. 
1. Pidato Pembukaan dalam Seminar 
a. Pembukaan 
b. Pengantar dan ucapan terima kasih 
c. Mengapa tema itu yang dipilih 
d. Apa yang diharapkan dari pembicara dan pendengar 
e. Penjelasan jalannya acara 
f. Penutup 

2. Pidato Ketua Panitia 
a. Pembukaan 
b. Ucapan terima kasih 
c. Maksud diadakannya kegiatan tersebut 
d. Laporan kegiatan 
e. Harapan untuk berpartisipasi 
f. Permohonan maaf 
g. Penutup 

3. Pidato Belasungkawa 
a. Pembukaan 
b. Penyampaian rasa belasungkawa 
c. Apa makna kematian bagi manusia 
d. Doa dan harapan 
e. Penutup 

4. Pidato Belasungkawa atas nama keluarga 
a. Pembukaan 
b. Ucapan terima kasih 
c. Peristiwa kematian 
d. Memintakan maaf atas kesalahannya 
e. Permohonan untuk penyelesaian hutang-piutang 
f. Permohonan maaf 
g. Penutup 

DAFTAR PUSTAKA 
Arsjad, Maidar G. dan Mukti U.S. 1991. Pembinaan Kemampuan Berbicara Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga. 
Citrobroto, R.I. Suhartin. 1979. Prinsip-Prinsip dan Teknik Berkomunikasi. Jakarta: Bhatara. 
Dipodjojo, Asdi S. 1982. Komunikasi Lisan. Yogyakarta: Lukman. 
Hadinegoro, Luqman. 2003. Teknik Seni Berpidato Mutakhir. Yogyakarta: Absolut. 
Haryadi, 1994. Pengantar Berbicara. Yogyakarta: IKIP Yogyakarta. 
Hendrikus, SDV, Dori Wuwur. 1991. Retorika. Yogyakarta: Kanisius. 
Keraf, Gorys. 1981. Diksi dan Gaya Bahasa. Ende-Flores: Nusa Indah. 
-----------. 1997. Komposisi. Ende Flores: Nusa Indah. 
Nadeak, Wilson. 1987. Cara-cara Bercerita. Jakarta: Binacipta. 
Pringgawidagda, Suwarna. 2003. Pranata Adicara. Yogyakarta: Adicita. 
Rakhmat, Jalaluddin. 1999. Retorika Modern Pendekatan Praktis, Cetakan ke-5. Bandung: Remaja Rosda Karya. 
Suyuti, Achmad. 2002. Cara Cepat Menjadi Orator, Da’I, dan MC Profesional. Pekalongan: Cinta Ilmu. 
Tarigan, Henry Guntur. 1990. Berbicara Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa. Cetakan ke-6. Bandung: Angkasa. 
Widyamartaya, A. 1980. Kreatif Berwicara. Yogyakarta: Kanisius. 
Wiyanto, Asul dan Prima K. Astuti. 2004. Terampil Membawa Acara. Jakarta: Grasindo. 
Wuryanto, M.E. Satrio. 1992. Pengetahuan tentang Protokoler di Indonesia. Yogyakarta: Liberty. 

Ditulis Oleh : Unknown // 11:04 PM
Kategori:

0 komentar:

Post a Comment